gagas.chelsea
Selasa, 11 Maret 2014
Sabtu, 19 Oktober 2013
'Aku Pasti Bisa'
Masih teringat dalam benak
sendiri bagaimana dulu saya mengalami proses pembelajaran di sekolah. Saya
sebagai murid lebih banyak menyimak daripada melihat maupun melakukan langsung
kegiatan yang sedang dilakukan. Sepanjang hari guru berbicara di depan dan
murid ‘dipaksa’ untuk duduk manis menyimak. Sesekali guru memberikan pertanyaan
terkait materi yang sedang dibahas, tapi selalu yang angkat tangan untuk
menjawab adalah murid-murid yang memang berprestasi. Lantas apa kabar
murid-murid yang lain?? mereka tidak menjawab apakah karena tidak tahu atau
mereka tidak diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Pada akhirnya
murid tinggal melakukan apa yang guru instruksikan. Terkadang tergelitik saat mendengar kata CBSA,
karena saya sendiri memplesetkan arti dari CBSA tersebut (Cul Budak Sina
Anteng) yang mengandung makna bahwa dengan adanya CBSA guru tidak lebih banyak
lagi berbicara di depan namun pada akhirnya guru lebih banyak diam, karena
murid ‘dibiarkan asik sendiri mengerjakan LKS’.
Itu cerita saya waktu dulu, lalu
bagaimana sekarang?? Nah berbekal pengalaman tersebut dan ditunjang dengan ilmu
yang saya dapatkan di GagasCeria tempat saya mengajar sekarang, maka saya selalu
mencoba untuk melakukan proses pembelajaran yang ‘Student Centered’. Student
Centered yang dimaksud disini beda sekali arti dan maknanya dengan CBSA, dimana
‘Student Centered’ anak diajak untuk
menjadi pembelajar aktif, dengan mencari tahu sendiri apa yang mereka ingin
tahu lebih dari informasi yang diberikan guru. Peran guru disini sebagai
‘Provokator’ dimana guru hanya memberikan ‘Clue’
lalu anak mencari tahu lebih informasinya. Selain itu peran guru disini adalah
sebagai ‘Fasilitator’ dimana guru menyiapkan lingkungan yang mendukung anak
untuk mengeksplorasi dalam rangka mencari tahu lebih informasi yang sudah
disampaikan guru. Setelah itu guru mengamati lalu memberikan stimulus untuk
anak-anak yang kesulitan dan memberikan tantangan untuk anak yang sudah mampu
secara mandiri. Disinilah peran guru sebagai ‘Evaluator’, dimana guru mengamati
lalu memberikan stimulus/tantangan dan pada akhirnya membuat strategi pembelajaran
yang tepat untuk setiap anak. Penggunaan Magic
Word ‘Aku Pasti Bisa’ membantu anak-anak yang masih kesulitan untuk tetap
mau berusaha dan untuk anak-anak yang sudah mampu menjadi lebih tertantang
untuk mencari tahu lebih.
Di kelas, area pembelajaran
menjadi salah satu indikator penataan lingkungan main yang ‘student centered’. Dimana anak boleh
menentukan di area mana ia akan mengeksplorasi untuk mencari tahu lebih
informasi yang sudah didapatnya. Area yang disiapkan pun harus dapat memfasilitasi
kebutuhan setiap anak, sehingga diharapkan akan terjadi proses pembelajaran
yang ‘active learning.’
Salah satu contoh kegiatan yang
pernah saya lakukan di kelas adalah mengajak anak-anak untuk mencari tahu warna
yang dihasilkan dari pencampuran warna primer. Anak-anak menentukan sendiri di
area mana mereka akan mencari tahu sendiri tentang hasil dari pencampuran warna
primer tersebut. Penataan lingkungan yang dilakukan adalah :
Toys area
Anak-anak diajak untuk membuat ‘Wayang
sayur atau buah’, warna krayon untuk mewarnai wayangnya sengaja disediakan
hanya warna primer saja. Begitupun dengan miniatur sayur dan buah yang
disediakan guru untuk menjadi inspirasi anak-anak dalam membuat wayang pun
sengaja buah dan sayur yang berwarna selain warna primer. Dari sini diharapkan
anak-anak mencampur sendiri warna primer tersebut saat mewarnai wayangnya,
sesuai dengan buah/sayur yang sudah dipilihnya untuk dijadikan wayang. Setelah selesai,
anak-anak memainkan wayangnya tersebut (dramatisasi mikro).
Langganan:
Komentar (Atom)