Sabtu, 19 Oktober 2013

'Aku Pasti Bisa'



Masih teringat dalam benak sendiri bagaimana dulu saya mengalami proses pembelajaran di sekolah. Saya sebagai murid lebih banyak menyimak daripada melihat maupun melakukan langsung kegiatan yang sedang dilakukan. Sepanjang hari guru berbicara di depan dan murid ‘dipaksa’ untuk duduk manis menyimak. Sesekali guru memberikan pertanyaan terkait materi yang sedang dibahas, tapi selalu yang angkat tangan untuk menjawab adalah murid-murid yang memang berprestasi. Lantas apa kabar murid-murid yang lain?? mereka tidak menjawab apakah karena tidak tahu atau mereka tidak diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Pada akhirnya murid tinggal melakukan apa yang guru instruksikan.  Terkadang tergelitik saat mendengar kata CBSA, karena saya sendiri memplesetkan arti dari CBSA tersebut (Cul Budak Sina Anteng) yang mengandung makna bahwa dengan adanya CBSA guru tidak lebih banyak lagi berbicara di depan namun pada akhirnya guru lebih banyak diam, karena murid ‘dibiarkan asik sendiri mengerjakan LKS’.

Itu cerita saya waktu dulu, lalu bagaimana sekarang?? Nah berbekal pengalaman tersebut dan ditunjang dengan ilmu yang saya dapatkan di GagasCeria tempat saya mengajar sekarang, maka saya selalu mencoba untuk melakukan proses pembelajaran yang ‘Student Centered’. Student Centered yang dimaksud disini beda sekali arti dan maknanya dengan CBSA, dimana ‘Student Centered’ anak diajak untuk menjadi pembelajar aktif, dengan mencari tahu sendiri apa yang mereka ingin tahu lebih dari informasi yang diberikan guru. Peran guru disini sebagai ‘Provokator’ dimana guru hanya memberikan ‘Clue’ lalu anak mencari tahu lebih informasinya. Selain itu peran guru disini adalah sebagai ‘Fasilitator’ dimana guru menyiapkan lingkungan yang mendukung anak untuk mengeksplorasi dalam rangka mencari tahu lebih informasi yang sudah disampaikan guru. Setelah itu guru mengamati lalu memberikan stimulus untuk anak-anak yang kesulitan dan memberikan tantangan untuk anak yang sudah mampu secara mandiri. Disinilah peran guru sebagai ‘Evaluator’, dimana guru mengamati lalu memberikan stimulus/tantangan dan pada akhirnya membuat strategi pembelajaran yang tepat untuk setiap anak. Penggunaan Magic Word ‘Aku Pasti Bisa’ membantu anak-anak yang masih kesulitan untuk tetap mau berusaha dan untuk anak-anak yang sudah mampu menjadi lebih tertantang untuk mencari tahu lebih.

Di kelas, area pembelajaran menjadi salah satu indikator penataan lingkungan main yang ‘student centered’. Dimana anak boleh menentukan di area mana ia akan mengeksplorasi untuk mencari tahu lebih informasi yang sudah didapatnya. Area yang disiapkan pun harus dapat memfasilitasi kebutuhan setiap anak, sehingga diharapkan akan terjadi proses pembelajaran yang ‘active learning.’
Salah satu contoh kegiatan yang pernah saya lakukan di kelas adalah mengajak anak-anak untuk mencari tahu warna yang dihasilkan dari pencampuran warna primer. Anak-anak menentukan sendiri di area mana mereka akan mencari tahu sendiri tentang hasil dari pencampuran warna primer tersebut. Penataan lingkungan yang dilakukan adalah :


Toys area







Anak-anak diajak untuk membuat ‘Wayang sayur atau buah’, warna krayon untuk mewarnai wayangnya sengaja disediakan hanya warna primer saja. Begitupun dengan miniatur sayur dan buah yang disediakan guru untuk menjadi inspirasi anak-anak dalam membuat wayang pun sengaja buah dan sayur yang berwarna selain warna primer. Dari sini diharapkan anak-anak mencampur sendiri warna primer tersebut saat mewarnai wayangnya, sesuai dengan buah/sayur yang sudah dipilihnya untuk dijadikan wayang. Setelah selesai, anak-anak memainkan wayangnya tersebut (dramatisasi mikro).